LUWU TIMUR Meeibis.com,– Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Desa Balantang menjadi momentum untuk merawat alam sekaligus menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah lahirnya desa. Melalui kegiatan penanaman mangrove di kawasan pesisir Balantang Lama, Sabtu (18/7/2026), masyarakat diajak kembali mengenang Kampung Tua Gembae yang diyakini sebagai titik awal terbentuknya Desa Balantang.
Kegiatan yang melibatkan Pemerintah Desa Balantang, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas), unsur TNI-Polri, relawan, dan masyarakat tersebut diawali dengan berkumpul di sebuah rumah panggung yang bagi sebagian warga menghadirkan kenangan tentang Bola’ Tang, sebutan yang diyakini menjadi asal-usul nama Balantang, yang dimaknai sebagai “rumah yang kandas”.
Dari lokasi tersebut, rombongan berjalan menyusuri kawasan mangrove menuju Kampung Tua Gembae. Di kawasan itu kini berdiri sebuah penanda bertuliskan “Selamat Datang Kampung Tua (Gembae)”, sebagai pengingat bahwa kawasan pesisir tersebut merupakan halaman pertama perjalanan sejarah Desa Balantang.
Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Balantang Lama menjadi tempat pertama para nelayan dari Pao, Malangke, berlabuh dan membangun permukiman. Dari kawasan sederhana di tepian Teluk Bone itulah kehidupan masyarakat berkembang hingga kemudian melahirkan Desa Balantang seperti yang dikenal saat ini.
Setibanya di lokasi, para peserta bersama-sama menanam bibit mangrove di sepanjang kawasan pesisir. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari upaya rehabilitasi lingkungan, tetapi juga simbol kepedulian masyarakat terhadap sejarah dan identitas desa.
Selama puluhan tahun, kawasan Balantang Lama mengalami perubahan akibat sedimentasi, perubahan garis pantai, dan dinamika alam pesisir. Pantai yang dahulu menjadi salah satu lokasi rekreasi masyarakat kini didominasi hamparan lumpur, sementara vegetasi mangrove menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi kondisi ekosistem pesisir.
Padahal, mangrove memiliki fungsi penting sebagai pelindung alami dari abrasi dan hempasan gelombang, sekaligus menjadi habitat berbagai jenis ikan, kepiting, udang, hingga burung-burung pesisir. Bagi masyarakat Balantang yang sejak lama menggantungkan hidup pada sektor kelautan dan perikanan, kelestarian mangrove merupakan bagian penting dari keberlangsungan kehidupan mereka.
Karena itu, penanaman mangrove dalam rangka HUT ke-30 Desa Balantang memiliki makna yang lebih luas. Setiap bibit yang ditanam menjadi simbol harapan untuk menjaga masa depan lingkungan pesisir sekaligus merawat warisan sejarah yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan desa tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga lingkungan, melestarikan budaya, serta mempertahankan identitas sejarahnya.
Sejalan dengan semangat tersebut, Desa Balantang terus mengembangkan potensi Desa Wisata Balantang Gembae yang mengangkat kekayaan sejarah, budaya, dan alam sebagai daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.
Mengusung tema “Menuju Desa Juara yang Peduli, Inklusif, dan Humanis,” peringatan HUT ke-30 Desa Balantang menegaskan bahwa menjaga alam dan menghormati sejarah merupakan dua ikhtiar yang harus berjalan beriringan. Sebab, desa yang maju bukan hanya desa yang mampu membangun, tetapi juga desa yang tidak pernah melupakan asal-usulnya.(*)






