MAKASSAR Meeibis.com,– Kaderisasi merupakan jantung dari sebuah organisasi. Melalui proses inilah lahir kader-kader yang tidak hanya memiliki identitas organisasi, tetapi juga dibekali kapasitas intelektual, integritas moral, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Berangkat dari semangat tersebut, Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (IPMIL) Raya UMI melaksanakan Latihan Kaderisasi Tingkat Lanjut (LKTL) bagi peserta LK 19. Kegiatan ini menjadi tahapan penting sebelum pengambilan slayer dan pengukuhan sebagai anggota penuh IPMIL Raya UMI.
Dalam pelaksanaannya, para peserta mendapatkan berbagai materi strategis yang bertujuan memperkuat wawasan dan daya kritis kader. Materi yang disampaikan meliputi Teori Perubahan Sosial, Kapitalisme, Feminisme, Konflik Agraria dan Ancaman terhadap Masyarakat Adat, hingga Edukasi Kebudayaan dan Kearifan Lokal sebagai Modal Sosial Masyarakat Luwu.
Pengurus Bidang Pendidikan dan Kaderisasi IPMIL Raya UMI, Fatur Rahman, menegaskan bahwa kaderisasi bukan sekadar proses formal organisasi, melainkan ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan.
“Menjadi kader berarti siap untuk terus belajar, terus berproses, dan terus mengambil peran di tengah masyarakat. Sebab kader tidak diukur dari atribut yang dikenakan, tetapi dari kebermanfaatannya bagi organisasi dan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Menurutnya, slayer yang akan dikenakan para peserta bukanlah tujuan akhir dari proses kaderisasi. Sebaliknya, slayer merupakan simbol amanah yang menandai dimulainya tanggung jawab yang lebih besar sebagai kader IPMIL Raya UMI.
Melalui LKTL ini, IPMIL Raya UMI berharap dapat melahirkan kader-kader yang mampu berpikir kritis, menjaga nilai-nilai organisasi, memperkuat tradisi intelektual, serta hadir memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Kepada seluruh peserta LK 19, panitia juga berpesan agar menjadikan setiap materi, diskusi, dan dinamika forum sebagai ruang untuk bertumbuh, memperkuat integritas, serta meneguhkan komitmen perjuangan.
“Slayer dapat dikenakan dalam satu malam, tetapi menjadi kader yang berintegritas membutuhkan proses, konsistensi, dan pengabdian yang panjang,” demikian pesan penutup dalam kegiatan tersebut.(*)






